banyuwangi-gencar-tracing-warga-mengapa-1
Data

Banyuwangi Gencar Tracing Warga, Kok?

Banyuwangi (beritajatim. com) – Pemkab Banyuwangi terus memperkuat pengamalan test (pengujian), tracing (pelacakan), dan treatment (perawatan) alias 3T dalam menangangi pandemi Covid-19.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani berkeliling sejumlah Puskesmas untuk tahu langsung penerapan 3T. Bupati perempuan itu mengecek tepat Puskesmas Tembokrejo dan Puskesmas Tapanrejo, Kecamatan Muncar; dan Puskesmas Parijatah Kulon, Kecamatan Srono.

“3T adalah pokok penanganan pandemi Covid-19. Sebab itu saya minta pada seluruh Puskemas untuk memperkuat testing dan tracing, ” kata Ipuk, Rabu (11/8/2021).

Di tiap Puskesmas, Ipuk berdialog tidak hanya dengan Kepala Puskesmas, namun juga pada aparat tracing dan entry keterangan. Ipuk mengecek kendala apa saja yang dialami. “Kami ingin langsung melihat dengan jalan apa progres di lapangan dan kendalanya sejauh ini seolah-olah apa. Ini untuk menggambarkan apa yang perlu kami intervensi langsung, ” cakap Ipuk.

Ipuk memaparkan, rasio tracing diantara Puskesmas di Banyuwangi tak seragam. Ada yang betul bagus, hingga 1: 25 (1 orang positif memburu hingga 25 kontak erat), tapi juga ada yang hanya 1: 5.

Ipuk pun meminta Puskesmas untuk memperkuat tracing pada warga yang kontak erat dengan warga yang positif. Idealnya, tracing dikerjakan terhadap minimal 15 orang kontak erat sesuai tumpuan Kemenkes.

“Saya minta terus diperkuat, sebab ini kunci untuk menekan transmisi lokal. Petugas tracing harus diperkuat, satu pasien terkonfirmasi cari kontak eratnya. Petugas entry data serupa perlu ditangani khusus, ” kata Ipuk.

Selain tersebut, Ipuk meminta kepada Puskesmas untuk memperbanyak testing utamanya di tempat-tempat umum yang banyak dikunjungi masyarakat. “Stok swab antigen cukup. Nanti kalau kurang bisa lekas minta ke Dinas Kesehatan, ” tambah Ipuk.

Selanjutnya treatment , penanganan orang yang sudah positif dilakukan isolasi terpusat di non-rumah sakit dan perawatan dalam rumah sakit bergantung perihal klinis masing-masing pasien.

“Untuk isolasi, upayakan isolasi terpusat untuk menjaga disiplin isolasi, karena isolasi mandiri cukup sulit dikontrol. Sudah ada 25 wadah isolasi terpusat di semua kecamatan, juga ada pada tingkat kabupaten, ” ujarnya. [rin/suf]

Share this: