Data

Bekas Gubernur Jawa Timur Maka Korban Penipuan Rp 8 Miliar

Surabaya (beritajatim. com) – Mantan Gubernur Jawa Timur Imam Utomo menjadi korban penipuan sebesar Rp 8 miliar. Hal itu terungkap dalam sidang dengan digelar di ruang Tirta 2 PN Surabaya, Rabu (1/9/2021).

Adalah Fadjar Setiawan dan Hadi Suwanto yang didakwa melakukan penipuan terhadap mantan orang nomer satu di Jawa Timur ini. Kedua Terdakwa menipu Imam Utomo dengan modus investasi untuk menolok tambang batu bara pada Barito, Kalimantan Tengah.

Kedua terdakwa kemudian menawari Pemimpin Utomo untuk memodalinya. Bila sepakat, keduanya menjanjikan fee kepada pemodal setiap penambangan. Hadi juga menjaminkan sendi di Rungkut agar bertambah meyakinkan calon kongsinya.

Dalam surat perkara Jaksa Penuntut Umum (JPU) Darmawati Lahang dijelaskan, Fadjar bersama Mujiono Moekmin Putra dari PT Antang Patahu Meaning (APM) datang ke rumah Purwanto, direktur PT Kapuas Jambrud Sejahtera (KJS) di Gayungsari pada 2017 lalu.

Keduanya mengaku punya tambang sundal bara di lahan PT Berkala International (BI) pada Barito. Untuk menjalankan tangan tersebut, keduanya membutuhkan persediaan Rp 8 miliar. Mereka menawari PT KJS sebagai pendananya. Purwanto lantas mengirimkan tawaran itu ke Imam selaku komisaris PT KJS.

Mujiono serta Fadjar lalu bertemu Imam Utomo untuk menawarkan kegiatan sama itu. Bahkan, Fadjar meyakinkan telah menguasai order dan tambang di lahan tersebut dengan menunjukkan informasi dua surat keputusan (SK) Bupati Barito Timur yang masing-masing tentang kelayakan lingkungan hidup kegiatan penambangan sundal bara dan izin cara penambangan operasi produksi.

“Mendengar penjelasan terdakwa Fadjar, saksi Imam Utomo tertarik bekerjasama tetapi PT KJS tidak memiliki dana yang diminta terdakwa sebesar Rp 8, 8 miliar, ” ujar jaksa Darmawati saat membacakan dakwaan di sidang di Pengadilan Negeri Surabaya, Rabu (1/9/2021).

Ketertarikan Imam Utomo berlanjut dengan meminta sandaran modal kepada Soedono Margono, bos Kapal Api. Soedono akhirnya bersedia memodali Rp 8 miliar melalui Franky Husein, direktur PT Kreasi Energi Alam (KEA). Itu sepakat bahwa nantinya penjualan hasil tambang batu tidak keruan akan diprioritaskan ke PT KEA. Sedangkan PT KJS akan diberikan fee Rp 30. 000 per metrik ton (MT).

Imam Utomo lalu mengambil jaminan kepada Fadjar buat pencairan modal. Fadjar kemudian mengajak Hadi sebagai bagian penjamin. Hadi menjaminkan dua unit rumah di Rungkut. Namun, sertifikatnya masih dalam notaris karena dalam cara balik nama dari pemilik lama ke Hadi. Setelah itu, mereka membuat perjanjian kerjasama bisnis di hadapan notaris. Pihak pertama Mujiono sebagai pengelola tambang, Pemimpin sebagi pemodal dan Hadi sebagai penjamin.

Sidang secara virtual kejadian penipuan dengan korban mantan Gubernur Jatim Imam Utomo

Notaris sempat menolak membuatkan keterangan perjanjian karena PT APM belum berbadan hukum. Kesudahannya disepakati perjanjian atas nama perorangan, bukan atas tanda perusahaan. Imam sempat meminta anak buahnya mengecek profesional ke lokasi. Setelah mendapatkan informasi tambang memang betul ada, Imam mentransfer Rp 8 miliar secara berangsur-angsur hingga lima kali ke rekening Fadjar.

Namun, uang itu dibagi oleh Fadjar ke Purwanto Rp 700 juta serta ke Hadi Rp 4, 55 miliar. Sisanya Rp 2, 75 miliar dimanfaatkan untuk operasional penambangan. Fadjar berharap hasil penambangan sundal bara bisa diberikan ke Imam. Kenyataannya, penambangan tak berjalan dan operasionalnya mundur. Akibatnya, Imam merugi Rp 8 miliar.

“Perbuatan para terdakwa diatur dan diancam pidana dalam pasal 378 KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, ” perkataan Darmawati.

Tengah Franky menyatakan, hingga kini, tidak ada modal dengan dikembalikan terdakwa Fadjar. Taat dia, setelah dicek, tangan itu tidak bisa hidup karena PT APM belum memiliki legalitas. Padahal, saat menyampaikan penawaran kerjasama bisnis, Fadjar meyakinkan bahwa segenap sudah beres dan telah siap menambang.

Setelah sekian lama menunggui modal yang tidak kunjung dikembalikan, pemodal berencana akan mengeksekusi rumah yang dijaminkan Hadi. Namun, aset itu ternyata dijaminkan lagi oleh Hadi ke orang asing. “Sewaktu jaminan akan dieksekusi ada masalah dengan karakter lain, ” kata Franky.

Sementara tersebut, terdakwa Fadjar mengaku kalau dirinya sudah mulai menambang. Tambang berhenti beroperasi bukan karena perusahaannya tidak berbadan hukum. “Di tambang sudah ada pekerjaan. Sudah dicek sama Purwanto. Kami cuma kekurangan dana saja, ” ujar Fadjar.

Pengacara Hadi, Paulus Gondo Wijoyo menyatakan, perkara itu sebenarnya perdata, bukan pidana. Saat aset dijaminkan, sedang berstatus sebagai milik karakter lain. Ketika dana cair, Hadi utang ke Fadjar untuk proses balik nama dari pemilik lama menjadi atas nama dia. Setelah itu, aset baru dijaminkan ke orang lain kala sudah balik nama.

“Ketika perjanjian penjaminan, aset belum dijaminkan ke orang lain. Jadi, itu wanprestasi karena klien ana tidak memenuhi perjanjian agunan, ” kata Paulus.

Terpisah, Robert Simangunsong, pengacara Imam Utomo, ketika dikonfirmasi terkait perkara itu membenarkan kliennya tersebut mantan Gubernur Jatim. Awalnya, kliennya tersebut ingin membantu ke-2 terdakwa untuk berkarya karena ada usaha.

“Kenalnya pertama dengan Mujiono. Sekarang sudah meninggal karena Covid. Lalu dikenalkan Hadi sama Fadjar. Dikatakan Fadjar bilang ada proyek tambang batu bara. Bilang memiliki tambang. Dan bisa berniaga batu bara, ” ucap Robert.

Ditambahkan pengacara dari Kantor Lembaga Java Lawyers International (JLI) itu, karena punya ikatan baik dengan Soedono Margo, kliennya itu meminta tolong untuk memodali usaha ke-2 terdakwa. Soedono akhirnya membenarkan.

“Akhirnya Bungkus Soedono mengutus dua orangnya yang bagian bisnis. Franky dan Regina menemui kedua terdakwa. Dicek di lokasi di Kalimantan ternyata tersedia. Tapi begitu berjalan had adanya Laporan Polisi, sundal bara tersebut tidak ada, ” imbuhnya.

Ternyata, menurut Robert, kekayaan tersebut digunakan untuk relevansi pribadi kedua terdakwa. Diceritakan lagi, Hadi merupakan ipar dari Fadjar. Hadi mempunyai tambak udang. Dan kekayaan yang seharusnya untuk pembelian batu bara tersebut dimanfaatkan untuk usaha Hadi.

“Karena Fadjar sejumlah ada proyek tambang serta tidak ada jaminan maka jaminannya tanahnya Hadi. Hadi dikasih Rp 4, 5 miliar, ” ujarnya.

Untuk menjaga nama baik Imam Utomo, belakangan Robert menyarankan agar Hadi dan Fadjar dilaporkan ke polisi. Sebab, adanya pencairan uang tersebut atas pesan dari kliennya.

“Pak Imam lalu menodong saran kepada saya berasaskan permasalahan ini. Biar nama baik Pak Imam langgeng baik, lalu saya diberi kuasa untuk melaporkan itu ke Polda Jatim. Karena jangan sampai Pak Imam dianggap bersekongkol dengan mereka, ” ungkapnya.

Lebih lanjut, Robert mengatakan bahwa dirinya pernah menyarankan untuk segera menyelesaikan. Karena mereka merasa tidak sanggup, akhirnya tidak ada perdamaian. “Mereka minta perdamaian. Biar hukuman ringan dan tak ditahan, Tapi mereka tidak mampu untuk menyelesaikan. Kesudahannya mereka tetap ditahan, ” tandasnya. [uci/suf]

Share this: