berkah-ramadan-kerajinan-sarung-tenun-tradisional-gresik-laris-manis-1
Data

Berkah Ramadan, Kerajinan Sarung Tenun Tradisional Gresik Laris Indah

Gresik (beritajatim. com) – Kamar Ramadan 1442 H siapa tahu bulan yang penuh hidayah bagi perajin sarung tenun tradisional asal Gresik. Sekalipun pandemi Covid-19 belum sudah, perajin sarung tenun asal Desa Jambu, Kecamatan Cerme, Gresik, tidak berhenti meneruskan usaha turun-temurun yang sudah diwariskan ke anak cucunya.

Salah mulia perajin sarung tenun tradisional yang meneruskan usaha bagaikan ini adalah H. Abdul Rochim (63). Bapak besar anak ini meneruskan jalan ayahnya sejak tahun 1997. Lelaki yang bertubuh sering tersebut tetap mempertahankan menggunakan alat tenun bukan instrumen (ATBM) untuk memproduksi menyarung hingga sekarang.

Bagi Jurus Rochim, sapaan akrabnya, bulan Ramadan permintaan sarung tenun malah meningkat tiga kali lipat. Kondisi ini arah 360 derajat. Pasalnya, era pandemi tahun lalu seruan sarung tenun yang diproduksi di tempatnya tidak banyak.

“Bulan Ramadan tahun ini, permintaannya benar banyak. Saya sampai kehabisan stok karena memenuhi seruan, ” ujarnya kepada beritajatim. com, Jumat (23/04/2021).

Kendati banyak suruhan, lanjut Rochim, dirinya kudu pandai-pandai mengatur waktu produksi. Hal ini disebabkan beberapa besar pekerjanya mata pencarihannya petani. Kendalanya kalau musim panen dan bulan pernikahan tiba. Dirinya, tidak mampu memproduksi sarung tenun secara full.

“Kalau tidak ada kegiatan tersebut, bisa produksi full biar dengan menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM), ” ujarnya.

Bila produksi full kata Rochim, bisa menghasilkan 25 inferior perminggunya. Dari jumlah tersebut, sebagian dipakai buat stok. Tapi untuk saat tersebut stoknya malah ludes karena banyak permintaan.

Dari sekian sarung tenun yang diproduksi.
Pola yang paling banyak digemari konsumen adalah bergambar kembang, dan timbul serta bermotif songket. Sedangkan permintaan dengan banyak dari kalangan membuang ke bawah.

“Di pasaran harga menyarung ATBM ini saya berniaga dimulai dari harga Rp 200 ribu hingga Rp 1, 3 juta untuk sarung sutera. Khusus sutera produksinya agak lama butuh. Sebab, butuh waktu perut minggu itupun hanya memanifestasikan dua sarung kain sutera, ” ungkapnya.

Sementara tersebut, salah satu perajin menyarung tenun tradisional Liana (60) menuturkan, dirinya sejak mungil menjadi perajin. Keunikannya buat sarung sutera, dijahit zaman lalu dicuci kemudian direndam semalam selanjutnya dijemur.

“Proses pembuatan wadah tenun sutera butuh waktu agak lama. Tidak salah kalau harganya mahal, ” katanya.

Selain memenuhi permintaan pasar di negeri. Sarung tenun tradisional asal Gresik juga menyerang pasar ekspor. Beberapa negara seperti Arab Saudi, Brunei, dan Malaysia menjadi rekan tetap. Tidak salah kalau sarung tenun tradisional asal Gresik bangkit dari tidur. [dny/but]

Share this: