Harganas di Tengah Pandemi, Suami ‘Nganggur’ Rawan KDRT
Data

Harganas di Tengah Pandemi, Suami ‘Nganggur’ Rawan KDRT

Surabaya (beritajatim. com) – 29 Juni ialah Hari Keluarga Nasional (Harganas). Tarikh 2020 ini momen Harganas dialami dengan cukup berbeda, yakni ditengah perjuangan negara dan masyarakat melawan pandemi Covid-19.

Terkait hal itu, ternyata momen Harganas 2020 ini cukup membutuhkan pancaran dan perhatian khusus, bagaimana ketahanan keluarga-keluarga Indonesia sebagai tonggak negeri di tengah pandemi ini?

Terkait hal itu, Dr. Andriyanto, SH, MKes. Kepala Biro Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak & Kependudukan (P3AK) Pemprov Jatim mengutarakan bahwa ketahanan keluarga Indonesia cukup teruji.

“Ditengah pandemi ini,     momen Harganas, ini menjadi refleksi bagimana puak kita bertahan dan bisa aku katakan bahwa ketahanan keluarga Nusantara cukup teruji, ” ujar Dr Andriyanto kepada  beritajatim. com, Senin (29/6/2020).

Ketahanan yang ‘teruji’ pun merujuk pada rumpun Indonesia ditengah pandemi melalui penuh ujian. Pasalnya adanya kemungkinan terjadinya baby boom atau fenomena kelahiran besar besaran dari kehamilan yang tidak diinginkan yang menyebabkan persoalan pengendalian penduduk.

Di Jawa Timur sedang terdapat trend drop out kontrasepsi atau penetapan program KB, bahkan dari petunjuk BKKBN pada awal tahun 2020, Januari terdapat 5. 869. 217 pengguna KB.

Tetapi pada Februari drop out sebesar 1, 32 persen atau 77. 077. Pada Maret drop out terjadi sebesar 4, 6 obat jerih atau 278. 236. Sedangkan di April drop out mencapai tujuh, 7 persen atau setara secara 414. 708. Selain itu, Ia juga menyoroti angka drop out KB, yang bahkan di Sampang mencapai hampir 20 persen.

Selain itu data P3AK juga menyebutkan bahwa juga terjadi peningkatan kehamilan yakni dari 7. 800. 000 juta jumlah bagian usia subur, didapatkan data dengan hamil hingga April 2020 sebanyak 227. 000, sekitar 2. 9 persen.

“Padahal jika tahun 2019, sampai april total kehamilan tidak sampai 227. 000 jadi ada kenaikan sekitar 8. 58 persen. Dikhawatirkan akan berlaku baby boom, dengan kenaikan hampir 10 persen ini kenaikan dengan cukup lumayan, mungkin kalau satu tahun tidak seberapa ya, jika pandemi ini lebih dari 1 tahun bisa saja kenaikan menjadi lebih tinggi, ” tukas Dr Andriyanto.

Disisi asing, kehamilan yang tidak diinginkan pun memicu berbagai dampak destruktif lainnya, seperti kerentanan ekonomi keluarga, yang berimbas pada kecukupan gizi bani juga menjadi berkurang, maka kasus stunting, hingga kematian ibu serta bayi juga muncul.

Dr Andriyanto kendati mengatakan bahwa di aplikasi SIMFONI PPA (Sistem Informasi Online Pelestarian Perempuan dan Anak)  menunjukkan kekerasan perempuan dan anak yang terjadi pada tahun 2020 hingga rata-rata Juni mencapai 613 kasus.

“Kekerasan tertinggi itu membangun kekerasan seksual sebanyak 40 upah dan 60 persen kejadiannya dalam rumah tangga. Jadi ini suku kita cukup juga teruji, ” ujarnya.

Kekerasan dalam keluarga ini salah satu faktor pemicunya adalah kerentanan ekonomi keluarga. Terlebih di masa pandemi banyak kasus karyawan yang di PHK dan dirumahkan.

“ini bisa memicu ketidakharmonisan keluarga, rani dengan suami menggangur beresiko satu. 36 kali lebih besar menjalani kekerasan fisik atau seksual, ” tutur Dr Andriyanto.

Dr. Andriyanto, SH, MKes

Selain itu dari survey yang dilakukan P3AK terdapat data bahwa hanya 32 persen anak yang didampingi belajar orang tua saat studi from home ditengah pandemi ini. Ini menjadi catatan juga bahwa Harganas di 2020 ini cukup membutuhkan perhatian.

Ia pun menegaskan bahwa banyak sekali masukan yang mengsyaratka ketahanan keluarga Indonesia butuh perhatian, dan Harganas itu momentum supaya tidak terjadi ledakan penduduk, tidak terjadi kekerasan tanggungan, dan sebagainya.

“Caranya mungkin yang pertama pada pasangan usia subur untuk tidak mundur memakai alat kontrasepsi untuk mengurangi peluang kehamilan yang tidak diinginkan, ” tukasnya.

Dia pun memastikan bahwa bersama pas dengan BKKBN untuk terus menganjurkan pendampingan dan pelayanan KB agar menstimulus pasangan usia subur untuk tetap melakukan kontrasepsi.

“Kami tetap menghimbau agar bidan dan petugas KB tetap menyerahkan pelayanan kesehatan dengan penyesuaian sesuai protokol kesehatan. Terus memberikan pelayanan, memang keinginan kami bersama BKKBN, bidan dan petugas KB lah yang datang ke masyarakat, tapi insyaallah petugas KB kita lulus aktif, ” paparnya.

“Yang paling penting adalah jangan hamil dulu, mungkin ini seolah olah menabrak hak asasi akan tetapi ini penting, karena ditengah pandemi ini ibu hamil sangat beresiko. Dengan menjaga diri dari kehamilan tidak diinginkan harapannya Keluarga Indonesia menjadi keluarga yang tangguh, ” tambah Dr Andriyanto yang juga Ahli Kesehatan Masyarakat (Epidemiologi) dan Ahli Gizi dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya ini.[adg]

Share this: