Inilah Profil Karna Suwandi, Calon Bupati Situbondo
Data

Inilah Profil Karna Suwandi, Calon Bupati Situbondo

Situbondo (beritajatim. com) – Karna Siswandi baru akan memasuki masa pensiun dari pegawai negeri sipil sekitar tujuh tahun lagi. Dia serupa baru beberapa bulan menjabat Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Kaidah Ruang Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Namun semua dilepasnya untuk melacak posisi bupati Situbondo.

Karna berpasangan dengan Khoirani, hawa anggota DPRD Situbondo 2009-2014 sebab Partai Persatuan Pembangunan dan jongos Pondok Pesantren Miftahul Ulum dalam Desa Langkap, Kecamatan Besuki. Khoirani juga Wakil Ketua Muslimat NU Situbondo.

Mereka diusung koalisi empat partai parlemen yakni Partai Persatuan Pembangunan (9 kursi), Partai Gerindra (6 kursi), Demokrat (5 kursi), dan PDI Perjuangan (4 kursi). Selain itu tersedia empat partai non parlemen jadi pendukung, yakni Partai Solidaritas Nusantara, Partai Amanat Nasional, Perindo, dan Partai Bulan Bintang.

Apa yang membuat Karna bahadur melepas jabatan birokrasinya? Semua berawal pada mdeio 2018. Karna diajak beberapa pemuda Situbondo untuk mengunjung kawasan perkebunan Kayu Mas. Pada sana ada 20 titik longsor yang perlu segera dibenahi. Saat itu, pemerintah belum turun lengah. Karna pun akhirnya menyatakan kemahiran membantu warga.

Karna menelepon salah satu kawannya pengusaha dan meminjam bego yang memakai roda ban. Sang pengusaha jadi meminjamkan bego itu gratis, pokok biaya mobilisasi alat, bahan menjilat, dan operator ditanggung Karna. Ternyata warga sekitar patungan untuk membeli solar. Selama 10 hari seluruh titik longsor tersebut dibenahi dan hanya memakan biaya Rp 7, 5 juta.

Lupa seorang pemuda yang mengantarkan tersebut kemudian meminta Karna untuk pulang kampung. “Bapak, kalau Bapak mau bekerja di luar daerah ataupun berkarya di luar daerah, monggo. Silakan kalau Bapak tidak sayang kepada rakyat di Situbondo. Akan tetapi kalau Bapak masih sayang kepada rakyat Situbondo, saya harap Bapak bisa kembali ke Situbondo. Aku akan membantu menyosialisasikan dan menyukseskan Bapak, ” katanya.

Para pemuda itu kemudian menghasilkan spanduk besar bertuliskan: ‘Bung Karna, Kami Tunggu di Situbondo 2020’.

Karna sendiri dilahirkan di sebagai anak pertama lantaran dua bersaudara pasangan Haji Muhammad Syamsudin dan Hajah Nurhayati di 14 April 1967, di Tempat Curah Tatal, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Situbondo. Semasa kecil, dia erat dipanggil Wandi.

Ayahnya adalah Sekretaris Desa Curah Bahan. Kakeknya, Amsudin Joyo Asmoro ialah Kepala Desa Curah Tatal 1935-1975. Karna dibesarkan di tengah tim birokrasi desa, abdi negara pada tingkat terkecil dalam administrasi pemerintahan. Dia sempat kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Kebijakan di Universitas Merdeka Malang pada 1985 dan butuh waktu empat tahun untuk lulus.

Saat menulis skripsi, Karna tertarik mengambil topik kemenangan Golongan Susunan di Situbondo. Ini tema dengan sensitif pada masa Orde Segar. Dia harus mengurus izin bertambah dulu ke Biro Sosial Kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Hasilnya: gagal. Karna dilarang menulis perkara Golkar.

Karna memeriksa berdebat dan menyodorkan argumentasi kalau kemenangan Golkar ini dilihat & ditulis dari perspektif akademis. Namun tetap saja lampu hijau tidak juga menyala. Akhirnya dia memutuskan tema yang aman, soal koperasi.

Karna menghabiskan karir birokrasi di Kabupaten Bondowoso. kota tetangga Situbondo. Dia sempat menjadi camat dan sejumlah kepala organisasi perangkat daerah, mulai dari Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu, Badan Pemberdayaan Masyarakat atau Dinas Pemberdayaan Bangsa Desa, Dinas Perindustrian dan Perniagaan, Dinas Pengairan, Dinas Pertanian, Jawatan Pekerjaan Umum dan Tata Kawasan, Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah, maka Penjabat Bupati Bondowoso.

Selama menjadi kepala organisasi unit daerah, Karna beberapa kali membawa nama Bondowoso ke tingkar nasional. Dia diundang bertemu Presiden Joko Widodo di Istana Negara di dalam Jumat, 16 Januari 2015, karena Bondowoso dinobatkan menjadi juara ke-2 nasional Adhikarya Pangan Nusantara (APN). Selain itu, Bondowoso juga menundukkan pemilihan petugas operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi dan rawa model tingkat nasional tahun 2014.

Pergantian kepemimpinan di Kabupaten Bondowoso dari Mengabulkan Said Husni ke Syalwa Arifin membawa konsekuensi bagi Karna. Tempat menjadi bagian dari gerbong kecendekiaan mutasi pasca Pilkada Bondowoso 2017, dan dimutasi menjadi Kepala Jawatan Perpustakaan dan Kearsipan Bondowoso.

Karna kemudian memilih boyongan ke Kabupaten Lumajang, dan ikut seleksi terbuka pemilihan beberapa situasi jabatan tinggi di lingkungan negeri kabupaten di sana. Karna mencantumkan diri menjadi Kepala Dinas Order Umum dan Tata Ruang (PUTR) Pemkab Lumajang, dan berhasil lulus tiga besar.

Moralitas, kemampuan, dan rekam jejak Karna selama ini berhasil meyakinkan Bupati Lumajang Thoriqul Haq untuk memilihnya. Kamis, 4 Juli 2019, Karna resmi dilantik menjadi Kepala Jawatan PUTR Pemkab Lumajang. “Kami tahu Pak Karna sebagai sosok yang secara teknis menguasai bidangnya, ” kata Wakil Bupati Lumajang Cantik Amperawati.

Indah memandang Karna berhasil menjalankan program Ngapling (Ngaspal Keliling) dan Incar (Irigasi Lancar). “Dia tanggap dan segera. Program Ngapling selalu ditunggu asosiasi, karena timnya sangat cepat merespons keluhan jalan berlubang. Pak Karna mampu menerjemahkan program dengan bagus, ” katanya.

Tetapi Karna hanya menjabat hingga Desember 2019 dan kemudian memilih berpamitan kepada Thoriqul Haq untuk balik ke Situbondo: mengejar kursi tumenggung. “Pak Bupati berpesan kepada beta: ketika nanti ditakdirkan Allah buat menjadi bupati di Situbondo, berikan pelayanan terbaik bagi masyarakat, karena tugas kita semua sebagai aparatur pemerintah adalah melayani seluruh warga, ” katanya. [wir/ted]

Share this: