Data

Kebiri Kucing untuk Kurangi Populasi, Apakah Aman?

Surabaya (beritajatim. com) – Kucing memang hewan yang menggemaskan. Tingkahnya dengan lucu dan bulu-bulu halusnya membuat banyak orang mungkin jatuh cinta pada hewan berkaki empat ini. Kira-kira orang, ada yang menetapkan untuk memelihara kucing suku bangsa namun, ada juga yang mengadopsi kucing di jalanan lantaran kasian.

Tak bisa dipungkiri, sedang banyak kucing-kucing terlantar & tak bertuan. Apalagi saat mereka masih harus tumbuh biak lagi dengan jumlah anak yang tak kurang, lalu harus kemanakah kucing-kucing tersebut?

Untuk menanggulangi itu, beberapa orang sudah menerap sistem sterilisasi pada hewan. Dimana, proses kebiri dikerjakan untuk memandulkan atau membersihkan kucing peliharaan atau kucing jalanan. Ini menjadi satu diantara cara untuk mengendalikan gawat tunawisma hewan.

Namun, tindakan ini tenggat saat ini masih memotong pro dan kontra. Banyak orang tidak setuju dengan metode kebiri kucing karena dianggap melanggar hak si kucing untuk memiliki anak.

Drh. Angela Maharani pernah mengatakan bahwa melempem ini lebih dianjurkan pada segi kedokeran. Selain menghalangi kehamilan dsn over warga, juga mencegah berbagai penyakit yang datang akibat kucing selalu kawin dengan sapa saja. Drh. Angela sendiri menyarankan bahwa proses kebiri pada kucing boleh dikerjakan saat si kucing telah berusia 6 bulan.

Meski si kucing sudah dikebiri, bukan bermakna ia tidak bisa kawin lagi. Pada kucing perwira, dokter hewan akan mengangkat testis kucing. Jadi, kucing jantan tidak lagi bisa memproduksi sperma untuk menjantani indung telur kucing betina.

Sedangkan di dalam kucing betina, dokter hewan akan mengambil rahimny. Secara begitu, apabila kucing betina dikawin paksa oleh kucing jantan liar, kucing hawa tidak akan hamil. Kejadian ini karena sperma kucing jantan tidak menemukan sari telur.

Beberapa orang yang peliharannya sudah disteril juga mengatakan kelakuan kucing mereka menjadi lebih tenang. Ini benar, terutama mengurangi aktivitas perkelahian antar kucing jantan saat musim kawin. Mensterilkan kucing, cocok dengan mengurangi naluri agresifnya, karena tidak ada lagi hormon yang mendoronf untuk mencari pasangan dan menegakkan wilayahnya.

Selain itu mereka juga tidak lagi memiliki nafsu buat berkelana, karena tak tersedia hormon untuk kawin. Sehingga si kucing cenderung bertambah senang berada di panti. Bahkan sifatnya akan berubah, lebih jinak, lebih manja, atau lebih pendiam. Tersebut hal yang bagus bukan?

Pada kurang kasus, kucing yang disteril juga akan memiliki nafsu makan yang meningkat. Ini lah kenapa mereka akan bertambah gendut. Namun berhati-hatilah zaman berat badan si kucing mulai berlebihan, karena mau menyebabkan obesitas dan memperpendek umur si kucing. [mnd/tur]

Share this: