Kesehatan tubuh Lingkungan dan Perawatan Gigi di Masa Pandemi
Data

Kesehatan tubuh Lingkungan dan Perawatan Gigi di Masa Pandemi

Sudah hampir satu tahun negeri dihantui oleh pandemi virus Covid-19.   Epidemiolog   menemukan bahwa virus ini memiliki penyebaran sangat  cepat, sehingga pada waktu 3 bulan telah siap melanda seluruh dunia.

Faktor mengkhawatirkan dari virus Covid-19 ini adalah mudahnya penyebaran melalui media droplet dan aerosol yang berterbangan dalam udara, yang berasal dari nafas dan rongga mulut orang dengan terinfeksi.   Droplet   dan  aerosol   yang jatuh di sekitar orang yang terinfeksi inilah yang berpotensi besar menyebar dan menginfeksi orang-orang di sekitarnya.

Lingkungan adalah seluruh sesuatu yang ada di kira-kira kita, termasuk udara yang kita hirup, makanan yang kita sajian, dan apa yang kita singgung. Jadi, jika ada seseorang dengan terinfeksi virus Covid-19, maka dunia di sekitarnya akan tercemar dan mengandung virus. Jika seseorang berkecukupan dalam lingkungan yang tercemar tadi, maka sangat berpotensi untuk terkena virus Covid-19.

Salah satu teori yang cukup relevan untuk menjelaskan dan membantu kita menyalahi keadaan pandemi Covid-19 ini ialah Teori Kesehatan Lingkungan. Teori ini membahas bagaimana menilai, mengkoreksi, melayani, dan mencegah paparan agen beracun, yang di dalam hal itu adalah virus Covid-19. Virus tersebut berpotensi sangat besar merugikan kesehatan manusia.

Adanya kajian aspek-aspek dari segi Kesehatan Dunia diharapkan mampu menciptakan suatu lingkungan sehat bagi populasi yang ada di dalamnya.

Ada 5 aspek yang menjadi kajian sari teori Kesehatan Lingkungan.   Pertama  adalah epidemologi lingkungan melakukan kupasan faktor eksternal yang menpengaruhi perihal penyakit, prevalensi, dan jangkauan geografis terhadap kondisi kesehatan.

Kajian ini dilakukan dengan  mengidentifikasi dan mengukur paparan lingkungan, melaksanakan penilaian risiko dan komunikasi risiko, serta memberikan pengawasan untuk pengaruh kesehatan yang merugikan dan pedoman berbasis kesehatan tentang tingkat paparan kontaminan .

Aspek kajian  kedua  ialah toksikologi Lingkungan. Pada aspek tersebut dilakukan kajian mengenai efek kritis dari agen biologi. Efek kritis tersebut dimisalkan jika virus Covid-19 jika terhirup, tertelan, atau terserap, dan dampaknya pada komunitasnya mencuaikan pergeseran dalam keanekaragaman spesies.

Aspek  ketiga  dalam prinsip Kajian Lingkungan adalah Rekayasa Dunia. Rekayasa Lingkungan adalah ilmu merekayasa lingkungan supaya manusia bebas dari pengaruh efek lingkungan yang mudarat. Sebagai contoh adalah terjadinya transmisi virus Covid-19.

Hukum Dunia menjadi aspek  ke-empat  dalam teori Kesehatan Lingkungan. Pada aspek itu dilakukan kajian hukum, peraturan atau regulasi, serta perjanjian. Pentingnya dilakukannya kajian Hukum Lingkungan adalah sebab hukum inilah yang mengatur bagaimana seharusnya manusia berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya.

Aspek  kelima  sekaligus yang terakhir dalam teori Kesehatan Lingkungan ini adalah Kedokteran Pencegahan. Kedokteran Pencegahan adalah prosedur yang dijalankan ketika individu, terutama mereka yang memiliki ciri risiko suatu penyakit, dirawat untuk mencegah terjadinya penyakit. Adanya perawatan untuk pencegahan ini menjadi bagian yang amat penting dilakukan di rangka meminimalisir persebaran.

Jika seseorang terinfeksi Covid-19, cantik ada gejala maupun tidak, oleh karena itu lingkungan di sekitarnya tercemar sebab virus yang  keluar dari menduri dan hidungnya. Dengan lingkungan yang telah tercemar oleh virus Covid-19 tersebut, maka ada beberapa usaha yang bisa dilakukan oleh karakter lain supaya tak tertular.

Pertama adalah menghindari dunia yang telah tercemar tersebut. Dunia yang telah tercemar, seperti sudah dijelaskan di atas, berpotensi tinggi menjadi wadah penularan karena menampung pula  droplet   dan  aerosol   dari orang yang terinfeksi.

Langkah kedua adalah secara cara merekayasa  lingkungan supaya suci dari cemaran. Prinsip 3-M: mengelola jarak, memakai masker, dan mencuci tangan, adalah sebagian dari daya yang dimaksudkan. Menjaga jarak dimaksudkan supaya lingkungan terdekat seseorang tak tercampur dengan lingkungan terdekat karakter lain.

Memakai masker adalah upaya pribadi supaya  droplet   dan  aerosol  tidak mencemari lingkungannya, dan untuk menyaring  udara yang dihirup tidak mengandung  droplet   dan  aerosol . Mencuci lengah untuk menghindari tangan yang menodai membawa virus ke mata, menduri dan hidung, yakni bagian-bagian tubuh yang mudah terinfeksi.

Upaya lain adalah  lockdown ,   yaitu isolasi skala besar untuk mencegah lingkungan yang tercemar tidak meluas ke kawasan lain.

Usaha buat membatasi lingkungan dalam lingkup kecil, serta menghindari lingkungan yang kotor virus mengakibatkan kerugian yang  gede. Ini karena kumpulan dan pergerakan orang dibatasi, maka kegiatan pelajaran, industri, serta transportsi lumpuh yang pada akhirnya membawa dampak di kelumpuhan ekonomi.

Pada samping pendidikan, industri dan, pemindahan, kegiatan yang sangat terdampak sebab pandemi Covid-19 ini adalah kegiatan medis perawatan gigi. Bahkan bidang kesehatan pun turut terdampak oleh pandemi Covid-19 ini.

Bidang Kedokteran Gigi adalah pekerjaan yang didedikasikan untuk mempromosikan serta meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan ruang mulut. Perawatan gigi memerlukan pengerjaan tatap muka jarak dekat, lengah dokter kontak dengan rongga ribut pasien yang mengandung air, minuman liur, darah, mikro-organisme, dan kotoran lainnya saat dilakukan perawatan.

Selama prosedur  perawatan akan  menghasilkan  droplet  dan  aerosol  dari mulut pasien. Tanpa direkayasa lingkungan, ruang kerja klinik  gigi menjadi lingkungan yang kotor virus, dan dokter gigi beserta asistennya dalam posisi yang rawan terinfeksi. Apalagi jika mereka tidak menggunakan pakaian pelindung yang memadai. Untuk mencegah klinik gigi menjadi sumber penularan Covid-19, maka tempat praktek dokter gigi harus suci dari cemaran virus yang terbawa oleh  droplet  dan  aerosol .

Rekayasa lingkungan ruang praktek bisa dilakukan dengan memasang purifier suasana untuk menyaring atau membunuh virus yang terbawa oleh  droplet  dan  aerosol.   Purifier  Sinar UV,   Ionizer  atau jenis  Hepa-filter  dapat digunakan untuk mengurangi konsentrasi  droplet   dan  aerosol   dengan mengandung virus.

Instalasi  Hepa-filter  yang dirancang khusus untuk klinik gigi dengan cerobong isap (funnel)  yang dipasang didekat besar pasien cukup banyak dikenal, namun membutuhkan biaya investasi yang cukup besar. Dokter gigi dan asistennya harus memakai pakaian pelindung APD Level 3,   dengan  respirator  standar N95 dan  faceshield  buat melindungi mata.

Ciri mahalnya  purifier  udara dan APD Level 3 menjadi alasan belum banyaknya klinik gigi yang menyediakan ruang praktek yang aman. Sebagai akibatnya, dari 34. 000 tabib gigi yang ada di Indonesia, ada belasan ribu yang terdesak harus alih kerja karena tidak memiliki tempat praktek yang tenteram. Demikian juga, pasien pun menetapkan diri hanya mengunjungi dokter gigi kalau ada kasus emergensi.

Hal yang sama berlaku di perguruan tinggi yang mendidik calon dokter gigi. Sudah utama tahun ini menghentikan pelatihan skill klinik bagi mahasiswa karena belum memiliki klinik yang aman dari  penularan Covid-19. Dengan belum ada rencana penambahan fasilitas klinik dengan aman, pendidikan dokter gigi tak akan mampu meluluskan dokter gigi setahun atau 2 tahun kelak.

Besar harapan bahwa pemerintah dan lembaga-lembaga pendanaan sanggup mengucurkan dana untuk menambah  jumlah klinik gigi yang aman, sehingga perawatan gigi dapat dilaksanakan kembali dengan normal. Demikian juga, madrasah tinggi dapat memproduksi lagi tenaga kesehatan gigi yang sekarang masih kurang.

Kelak masa vaksin telah diberikan dan dunia menjadi semakin aman, akan tersedia cukup tenaga medis di bagian kedokteran gigi untuk memberikan pembelaan bagi masyarakat. Kesehatan gigi adalah satu yang juga cukup penting dari kesehatan manusia. (ted)

*)Titiek Berniyanti,
Guru Besar Kedokteran Geraham Masyarakat, Universitas Airlangga

Share this: