fakta-kerokan-benarkah-dapat-sembuhkan-masuk-angin-1
Data

Keterangan Kerokan, Benarkah Dapat Sembuhkan Masuk Angin?

Surabaya (beritajatim. com) – Bagi masyarakat Nusantara, kerokan bukanlah hal dengan asing. Kerokan menjadi salah satu teknik beberapa orang buat menyembuhkan masuk angin, awak pegal, pusing, dan keburukan ringan lainnya. Tak mampu dipungkiri bahwa tubuh menjadi lebih segar setelah kerokan, hal ini sebagai tanda bahwa angin atau keburukan telah keluar.

Untuk diketahui, kerokan merupakan sebuah metode tradisional di mana punggung seseorang yang sakit akan digores memakai koin. Tak lupa awak dibaluri minyak kayu suci, balsem, atau minyak yang menghangatkan lainnya.

Ternyata tradisi ini tidak hanya ada di Indonesia, namun pula di beberapa negara lain seperti Vietnam yang bertambah dikenal dengan cao gio, dan di Cina dengan populer dengan gua sha.

Nah, penasaran rasanya apakah teknik kerokan ini benar-benar bisa memulihkan atau hanya menjadi mitos?

Dr Buah hati Ema Anindia, seorang pekerja kesehatan pernah mengatakan bahwa kerokan tidak benar-benar menyembuhkan masuk angin dan aib lainnya, tetapi hanya mengurangi gejala yang dialami.

Tetapi, aliran darah pada area tubuh yang dikerok akan berjalan mampu, hal ini karena terjadinya sirkulasi pada jaringan lunak. Gesekan yang dilakukan secara terus menerus bisa melebarkan balik embulu darah tepi dengan menyempit atau menutup, tubuh pun akan mengeluarkan hormone beta-endorfin sehingga penderita merasa lebih baik.

Beberapa diantara kita meyakini bahwa warna merah pada hasil kerokan itu merupakan tanda seberapa parahnya penyakit. Semakin kelam warna merah, maka semakin parah, begitu pula sebaliknya. Padahal warna kemerahan ini adalah akibat dari berkembang dan pecahnya pembuluh darah di bawah kulit.

Sedangkan rasa ikrab yang kita alami, selain berasal dari minyak, tetapi juga berasal dari kegiatan pergesekan. Hal ini mengenai dengan rumus fisika Albert Einstein, di mana menggosokkan uang logam ke kulit mampu menciptakan energi, yaitu panas.

Logikanya, sama seperti ketika kita menggosok kedua tangan masa merasa kedinginan, gosokan ke-2 telapak tangan itu selalu menghasilkan energi panas dengan membuat kita merasa lebih hangat.

Kesibukan kerokan ini mungkin tak memiliki banyak bahaya, tetapi saat pembulu darah berantakan dan terbukanya pori-pori kelanjutan gesekan, maka ini mampu menjadi sarang bagi patogen. Apalagi apabila alat pengerok bukan alat yang bersih.

Meskipun belum ada penelitian lainnya menerjang efek kerokan, tradisi masih layak untuk terus dikerjakan jika memang dirasa mampu membantu untuk meringankan rasa sakit. Asalkan tidak dilakukan secara berlebihan. [mnd/bjo]

Share this: