kh-imam-zarkasyi-filosofi-pendidikan-dan-prinsip-non-afiliasi-pondok-gontor-1
Data

KH Imam Zarkasyi, Filosofi Pendidikan, dan Prinsip Non-afiliasi Jambar Gontor

Berlokasi di Kabupaten Ponorogo, Jatim, Jambar Modern Darussalam Gontor berkecukupan di kawasan Mataraman. Dalam wilayah ini, pengaruh budaya Jawa, khususnya dari Tunggal dan Yogyakarta, sangat padat. Nilai-nilai Sinkretisme, ajaran Agama islam yang bercampur dengan tamadun Jawa, terasa kuat pada kawasan Mataraman Jatim dipadankan di kawasan Tapal Sado, dan kawasan budaya lainnya di Jatim.

Manajemen Pondok Modern Gontor mulai berkiprah, mengembangkan mengirimkan dakwah, pendidikan, dan aksi-aksi sosial lain bergerak bagai spiral. Artinya, gerakan dakwah itu    dari wilayah-wilayah    terdekat dengan dunia yang menjadi target group dakwah, terutama dalam membasmi praktek Mo Limo. Daripada waktu ke waktu, metode dakwah dan pencerahan kepada umat itu meluas dalam wilayah lainnya dari jauh dari lingkungan fisik Pondok Gontor.

Adalah KH Ahmad Sahal sebagai saudara sulung dari KH Imam Zarkasyi dan KH Zainuddin Fannani, merupakan perintis Pondok Modern Gontor baru. Selama 10 tahun sejak didirikan di dalam 9 Oktober 1926, tadbir Pondok Gontor berada sempurna di tangan kepemimpinannya.

Sebab, kedua adiknya sedang menempuh ilmu pengetahuan agama di berbagai sekolah di Jawa, Sumatera & sejumlah pondok pesantren. Kiai Sahal memulai dakwah serta pendidikan kepada masyarakat kira-kira pondok, dari mulai anak-anak sampai orang tua. Terutama untuk memberantas praktek Mo Limo yang begitu berpengaruh menenggelamkan akhlak warga sekitar pondok.

Nama Trimurti dalam relasinya dengan manajemen Pondok Gontor melukiskan kepemimpinan dari ketiga ajengan tersebut. KH Ahmad Sahal, KH Imam Zarkasyi, serta KH Zainuddin Fannani dengan menata dan mengembangkan Jambar Gontor sampai besar & ternama seperti sekarang.

Berbagai program pendidikan diselenggarakan di pondok itu, seperti Tarbiyatul Athfal, Tarbiyatul Ikhwan, Tarbiyatul Mar’ah, Miftahus Sa’adah, dan lainnya. Selain itu, proses pendidikan di pondok ini sejak periode dilengkapi dengan kegiatan lain, seperti kepanduan, sepak bola, drama, dan lainnya.

Di masa inilah sebutan ‘Modern’ diberikan pada para tamu yang sampai ke Pondok Gontor. Sebutan tersebut sejak tahun 1936 diadopsi menjadi nama resmi Pondok Gontor, yang bernama asli Darussalam.

Tanpa bermaksud menafikan kedudukan dua kiai lainnya: KH Ahmad Sahal dan KH Zainuddin Fannani, kiprah KH Imam Zarkasyi dalam pengembangan Pondok Gontor dan pendidikan Islam di Indonesia tidak mungkin dinafikan. Kiai Pemimpin Zarkasyi lama menjabat sebagai Ketua Majelis Pertimbangan Pelajaran dan Pengajaran Agama (MP3A) Departemen Agama (kini berganti menjadi Kementerian Agama).

Jabatan itu dia pegang sejak 27 Nopember 1953 sampai 30 April 1985. Organ Kementerian Keyakinan ini yang memberikan penuh masukan tentang berbagai policy pendidikan agama Islam pada Kementerian Agama maupun instansi lain.

Buya Imam Zarkasyi yang tumbuh di Ponorogo pada 21 Maret 1910 juga pernah menduduki sebagai Kepala Periode Pendidikan dan Pengajaran dalam Kantor Urusan Agama Was-was (Shumubu) di Jakarta dalam masa penjajajahn Jepang. Arahan puncak Shumubu adalah KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU dan pimpinan Pondok Pesantren Tebuireng Jombang.

Jalan hidup Kiai Pemimpin Zarkasyi tak hanya bersentuhan dengan Pondok Gontor semata-mata. Ide, pemikiran, dan inovasinya dalam perumusan kebijakan tentang pengajaran dan pendidikan petunjuk Islam di Kemenag & Indonesia tak bisa disepelekan.

Hal tersebut tak mungkin dilepaskan sejak kapasitas keilmuannya yang agung, akhlak pribadinya layak menjadi teladan, dan konsistensi sikapnya tak diragukan sekalipun mengemban jabatan mentereng di utama kementerian negara.

Ayah dan ibu Ajengan Imam Zarkasyi adalah arsitek yang lama bergerak pada ranah pergerakan keagamaan dan pemerintahan. Ayahnya bernama Santausa Annam Bashari adalah generasi ketiga dari pimpinan Jambar Gontor lama dan generasi kelima dari Pangeran Hadiraja Adipati Anom, putra Sultan Kasepuhan Cirebon. Sedangkan ibunya adalah keturunan Bupati Suriadiningrat, yang terkenal pada zaman Babad Mangkubumen dan Penambangan (Mangkunegaran).

Sebab ibunya yang terkenal salihah dan taat beribadah itulah, Kiai Imam Zarkarsyi banyak menerima pengajaran dan pelajaran agama Islam. Tak lalai, sentuhan untuk menumbuhkan watak menuntut ilmu pengetahuan, indah ilmu agama Islam dan ilmu pengetahuan umum, tetap dipompakan ibunya kepada Buya Imam Zarkasyi.

Dalam konteks ini, Ajengan Imam Zarkasyi sangat terkenang dengan petuah ibunya. “Kamu harus menjadi alim dan salih. Daripada mempunyai harta lebih baik mempunyai ilmu, ” begitu isi suruhan Ibunda Kiai Imam Zarkasyi seperti ditulis Hery Noer Aly (2003) dalam artikelnya berjudul: KH Imam Zarmasyi: Tafsir Modern Pendidikan Agama islam.

Perpaduan institusi pendidikan Islam lama, kaya pondok pesantren, dan sekolah modern keagamaan, adalah besar kanal pendidikan yang ditempuh dan membangun kapasitas keilmuan Kiai Imam Zarkasyi bujang. Belum genap berusia 12 tahun, Kiai Imam Zarkasyi nyantri di Pondok Joresan sekaligus belajar di Madrasah Desa Nglumpang.     Berselang beberapa tahun kemudian, Kiai Imam Zarkasyi melanjutkan pendidikan di Sekolah Ongko Loro di Jetis, Ponorogo selama dua tahun.     Dan bersamaan dengan itu, Kiai Imam selalu nyantri di Pondok Josari, di mana pelajaran istimewa di pondok ini merupakan tauhid, khatm Al Qur’an, barzanji, dan khitabah.

Tahun 1925, tulis Hery Noer Aly, Ajengan Imam Zarkasyi melanjutkan pendidikan di Kota Solo. Pada sini ada tiga lembaga pendidikan sekaligus yang diikuti Kiai Imam Zarkasyi, yaitu nyantri di Pondok    Jamsaren, sekolah di Langgar Mambaul Ulum, dan Madrasah Arabiyah Islamiyah. Di ke-3 lembaga pendidikan tersebut, Buya Imam Zarkasyi belajar semasa lima tahun.

Di Pondok Jamsaren ini lah, pandangan keagamaan dan kepemimpinan Kiai Imam Zarkasyi diasah dan diperkuat. Salah mulia kegiatan penting yang digelar di pondok adalah perbincangan keagamaan, yang pesertanya daripada berbagai daerah dengan    orientasi dan    aliran keagamaan dalam Islam yang beragam.

Tema yang dibahas selain terkait perkembangan Islam di lapisan nasional dan global, tak menutup kemungkinan masalah-masalah khilafiyah. Di mana relasi antargolongan dalam komunitas Islam tak jarang diwarnai dengan pertikaian ide dan ketegangan, sebab perbedaan pandangan terkait masalah khilafiyah. Masing-masing penganut arah dan aliran keagamaan tersebut berusaha keras menyebarkan ajarannya di antara santri lainnya di Pondok Jamsaren.

“Di tengah pertarungan itu, Kiai Imam Zarkasyi memilih bersikap bebas, tidak terikat kepada satu bangsa. Bahkan, dalam kelompok diskusinya, dia menjadi penengah & pemersatu. Independensi dan kegandrungannya kepada persatuan umat Islam telah menjadi pilihan sikapnya sejak muda, ” tulis Hery Noer Aly.

“Karena itu, sejak dulu sampai sekarang, Jambar Gontor mempunyai prinsip buat tidak berafiliasi kepada sistem keagamaan mana pun, ” tambah Hery Noer Aly dalam artikelnya.

Secara faktual, banyak arsitek nasional dari beragam jalan dan orientasi keagamaan di Islam yang pernah nyantri di Pondok Gontor. Misalnya, KH Idham Chalid serta KH Hasyim Muzadi, ke-2 tokoh ini pernah mengambil posisi sebagai Ketua Ijmal PBNU. Lalu, Prof Dr Dien Syamsuddin, MA    adalah alumni Pondok Gontor yang pernah menjabat jadi Ketua Umum PP Muhammadiyah. Dr Hidayat Nur Wahid merupakan santri Pondok Gontor yang kemudian berkiprah jadi politikus di Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Masih penuh tokoh agama dan tadbir lain yang merupakan alumni Pondok Gontor. Lembaga pelajaran ini memayungi semua cucuran dalam Islam secara equal dan mencerdaskan.

Hal itu dibuktikan secara sikap dan tindakan faktual yang dilakukan KH Zainuddin Fannani. Kendati peran KH Zainuddin tak begitu tampak sekuat dan sekental kedua saudaranya: KH Ahmad Sahal dan KH Imam Zarkasyi, tapi Kiai Zainuddin tidak melepaskan tanggung jawab pada pengelolaan dan pengembangan Tempat tinggal Gontor.

Sebab mempertimbangkan posisinya sebagai pemrakarsa Muhammadiyah, tepatnya sebagai Konsul Jenderal Muhammadiyah    Sumatera Bagian Selatan, Kiai Zainuddin lebih memilih bertempat tinggal di luar Pondok Gontor. Kendati demikian, pemikiran-pemikiran Buya Zainuddin tetap dibutuhkan, terutama apabila terjadi perbedaan prinsip antara Kiai Sahal & Kiai Imam Zarkasyi di dalam pengelolaan Pondok Gontor.

Posisi penting dan kepemimpinan Kiai Imam Zarkasyi dalam proses belajar mengajar dan perluasan pendidikan di Pondok Gontor dimulai pada 1936, masa sang kiai berusia 26 tahun. Kiai Sahal jadi saudara sulung memanggil adiknya yang saat itu menjabat sebagai Kepala Sekolah Muhammadiyah di Padang Sidempuan.

Tugas sebagai kepala sekolah itu diamanatkan oleh gurunya, Mahmud Junus, adalah pimpinan sekolah Kulliyyatul Mu’allimin al-Islamiyah (KMI) Padang. Mahmud Junus dikenal sebagai ustazah dan intelektual di Padang yang pernah berkuliah pada Universitas Al Azhar Mesir. Sebelum itu, Kiai Imam Zarkasyi pernah menempuh pelajaran dan nyantri di Sumatra Thawalib School di kolong pimpinan Haji Abdul Karim Amrullah atau yang terkenal dengan sebutan Haji Rasul.

Saat dipanggil pulang ke Ponorogo untuk mengelola dan mengembangkan Pondok Gontor, Kiai Imam Zarkasyi mengusulkan    program Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyah (KMI). Proposal itu diterima kedua saudaranya dan Kiai Imam Zarkasyi diminta mengelola dan memimpin KMI Pondok Gontor. “Sejak saat itulah, pembagian posisi di antara Trimurti terang dengan jelas, ” tulis Hery Noer Aly.

Dalam konteks ini, ada pembagian tugas & tanggung jawab yang nyata serta terarah antara ketiga kiai tersebut. Kiai Sahal sebagai pengasuh yang bertanggung jawab atas pendidikan para santri (Kepesantrenan), Kiai Zainuddin sebagai penasihat yang berlaku layaknya konsultan dan penyeimbang di antara kedua arahan. Dan Kiai Imam Zarkasyi menjadi direktur KMI yang bertanggung jawab atas pendidikan siswa (urusan persekolahan). Pada menjalankan perannya itulah, Buya Zarkasyi melahirkan banyak gagasan penting bagi pengembangan pendidikan di Pondok Gontor.

Di mata Ajengan Imam Zarkasyi, pendidikan adalah bagian terpenting bagi kesibukan dan kemajuan umat Agama islam. Salah satu kelemahan pelajaran di pesantren saat tersebut, menurut Kiai Imam Zarkasyi,     tidak adanya rumusan tentang tujuan pendidikan yang jelas, yang dituangkan dalam program kerja. Pelajaran pesantren hanya seakan mengikuti arus keahlian kiai.

Dalam kerangka inilah, Kiai Imam Zarkasyi mengumumkan tujuan Pondok Gontor sebagai berikut, “Yang jelas cuma satu saja, yaitu buat menjadi orang…Jadi bersifat ijmal dan belum menjurus, belum calon dokter, belum calon kusir, belum calon apa-apa. Katakanlah calon manusia.     Manusia itu apa kerjanya? Dari pendidikan dengan kami berikan itu mereka akan tahu nanti pada masyarakat apa yang bakal dikerjakan…Jadi, persiapan untuk mengakar masyarakat dan bukan buat masuk perguruan tinggi. Maka dari itu, kami namakan pendidikannya, pelajaran kemasyarakatan. Dan itu dengan kami utamakan. ”

Secara eksplisit & implisit, pendidikan di Jambar Gontor untuk mempersiapkan lulusannya mampu hidup dan menganjurkan kontribusi dan    khasiat kepada masyarakat. Tentu sekadar, tujuan tersebut dilandasi filosofi yang bersumber dari Al Qur’an dan Al Hadits.

Dalam konteks ini, Kiai Imam Zarkasyi menjadikan Hadits Rasulullah Muhammad SAW yang berbunyi: Khair al nas anfa’uhum li al-nas (Manusia yang menyesatkan baik adalah yang paling bermanfaat bagi orang banyak), sebagai pedoman dan punca utamanya.

Pada perspektif obyektif dan praksis, pendidikan KMI Pondok Gontor yang dipimpin Kiai Imam Zarkasyi berisi pengetahuan keyakinan dan pengetahuan umum dengan formula 100%: 100%. Proporsi tersebut tentu tidak mampu dipahami secara dikotomis.

“Dalam pandangan Buya Imam Zarkasyi, pengetahuan umum yang bersumber pada studi empiris-rasional bukan saja tak bertentangan, melainkan juga merupakan bagian dari ajaran keyakinan Islam. Pengetahuan umum dikasih karena manusia dalam hidupnya tak cukup dengan ilmu-ilmu normatif, tetapi juga secara ilmu-ilmu positif yang merupakan bekal untuk mempertimbangkan posisi dalam masyarakat. Selain tersebut, pengetahuan umum dibutuhkan oleh ulama untuk menghadapi berbagai masalah yang terus berkembang sesuai dengan perkembangan periode, ” ingat Kiai Pemimpin Zarkasyi sebagaimana dikutip di artikel Hery Noer Aly (2003).   [air/bersambung]

Share this: