Komnas PA Berharap Pendeta HL Dihukum Maksimal dan Kebiri
Data

Komnas PA Berharap Pendeta HL Dihukum Maksimal dan Kebiri

Surabaya (beritajatim. com) – Ketua Komisi Nasional Perlindungan Bujang (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait meminta agar Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang menangani perkara pencabulan dengan terdakwa pendeta HL dituntut maksimal sesuai dengan UU 17 tahun 2016 tentang Penetapan Perpu 1 tahun 2016 tentang Modifikasi Kedua atas UU 23 tarikh 2002 tentang Perlindungan Anak menjadi UU.

“Selain tersebut kita juga menuntut agar dilakukan hukuman kebiri terhadap terdakwa sebab kejahatan ini dilakukan berulang semenjak korban umur 12 tahun, ” ujarnya, Rabu (12/8/2020).

Dijelaskan Arist, kasus yang dikerjakan Terdakwa HL masuk kategori luar biasa sebab dilakukan berulang-ulang dan dilakukan secara sadar oleh Terdakwa. “Maka harusnya dituntut di atas 20 tahun kalau itu dijeratkan Peraturan nomer 17 tahun 2016, tidak Undang-undang nomer 35 yang intimidasi hukumannya 15 tahun, ” katanya saat jumpa pers.

Arist menambahkan, meskipun dirinya belum melihat tuntutan Jaksa namun tempat berharap agar Jaksa menjeratkan bab tersebut dalam tuntutannya nanti. Di undang-undang perlindungan anak sendiri logat Arist tidak mengenal perbuatan pelanggaran dilakukan atas dasar suka sesuai suka.

“Karena ini dilakukan berulang-ulang sejak umur 12 tahun sampai sebelum 18 tahun dan disinyalir juga dilakukan di luar wilayah dasar Jawa Timur dan itu ingat dilakukan. Maka apa yang dikerjakan HL ini bisa disebut predator Extraordinary Crime atau kejahatan istimewa, ” ujarnya.

Arist juga berharap agar majelis hakim nantinya tidak hanya memutus kejahatan pokok saja namun bisa dipakai hukuman kebiri karena dilakukan berulang kali. Dengan adanya putusan maksimal itu dari hakim, lanjut Arist, oleh sebab itu bisa mensterilkan lembaga-lembaga yang berlatar belakang keagamaan.

Terhadap korban sendiri, Arist menyatakan bahwa pihak Komnas PA saat tersebut masih terus mendekati korban dengan melakukan Psychosocial Therapy. “Ini penting karena pengalaman buruk itu kalau tidak dihancurkan maka akan terjadi trauma yang berat, ” ujarnya. [uci/suf]

Share this: