Data

Langgar Imam Puro, Bukti Penyaluran Islam di Wilayah Barat Laut Ponorogo

Ponorogo (beritajatim. com) – Angin sepoi-sepoi berhembus di halaman Langgar Imam Puro. Suasana langgar yang berada di Kampung Sukosari Kecamatan Babadan, suasananya asri dan rindang, pasal adanya beberapa pohon sawo yang menjulang tinggi, had lebat daunnya bisa melaksanakan teduh halaman masjid.

Masjid yang terlihat sejak tahun 1778 tersebut menjadi bukti jejak kenangan peradaban dan penyebaran keyakinan Islam di wilayah barat laut Ponorogo tersebut. Panggilan untuk salat duhur dan asar di masjid ini, kumandang azannya tidak awal waktu salat.

Untuk doa zuhur muazin mengumandangkan adzan sekitar pukul 12. 45 WIB. Sedangkan untuk salat asar sekitar pukul 16. 30 WIB. Ta’mir langgar sengaja melakukan itu pokok sebagian besar warga ialah petani. Biar mereka beradu dulu setelah dari sawah.

“Kalau duhur dilaksanakan awal waktu, dengan salat jamaah sedikit, karena sebagian besar warga segar pulang dari sawah. Maka diundur namun warga dengan melakukan salat jamaah dalam masjid banyak, ” sekapur Imam Masjid KH. Muhammad Maksum, Minggu (25/4/2021).

Maksum mengaku situasi itu sudah menjadi kesepakatan masyarakat setempat. Kendati begitu, ketiga waktu salat wajib yang lain tetap pas di awal waktu. Begitu halnya dengan waktu Doa Jumat. Salat wajib dalam hari Jumat itu lestari sama seperti biasanya.

Masjid di berasaskan lahan sekitar tiga seperseribu meter persegi itu didirikan oleh KH. Imam Puro pada tahun 1778. Oleh karena itu tidak heran, masyarakat menamakan tempat ibadah umat islam itu menjadi masjid Imam Puro. Selain mendirikan masjid, beliaulah orang pertama dengan menyebarkan agama islam dalam wilayah perbatasan Ponorogo serta Magetan itu.

“Mbah Imam Puro dengan menyebarkan agama Islam disini. Selain masjid, beliau juga mendirikan pondok pesantren, santrinya kebanyakan dari luar wilayah sini, ada yang dari Banten juga, ” katanya.

Kiai Imam Puro merupakan cicit dibanding Ki Ageng Muhammad Besari, pendiri masjid Tegalsari di Kecamatan Jetis. Karena bapaknya yang bernama Tubagus Abuyamin yang berasal dari Banten, selain berguru kepada Ki Ageng Besari, juga akhirnya menikahi cucunya.

Setelah menikah, Kiai Tubagus Abuyamin lantas babat alas di Desa Demangan Kecamatan Siman. Di sana juga mendirikan masjid dan pondok untuk syiar agama islam. Selain itu juga memilik anak yang dinamakan Imam Puro.

“Setelah Kiai Imam Puro dewasa terus diminta meneruskan perjuangan menyebarkan agama Islam di lahan baru. Hingga dipilih tempat di barat bahar Ponorogo yakni di Daerah Sukosari ini, ” membuka Maksum.

Iklim masjid kini masih pada proses renovasi. Namun, untuk kayu yang digunakan tidak lagi yang aslinya. Pokok, luas masjid diperlebar perut kali lipat lebih lantaran ukuran aslinya dulu 9 x 9 meter kotak.

Sumur yang berada di depan masjid dan beduk serta kentongan yang masih asli. Hanya kulit lembu dari beduk yang sudah beberapa kali berganti. Sepanjang ingatan Maksum, masjid Imam Puro itu juga sudah beberapa kala dilakukan pemugaran.

Yakni pada tahun 1850-an dan tahun 1960-an. Langgar Imam Puro ini mampu menampung 400 hingga satu. 000 jemaah. “Saat tersebut daya tampung di masjid bisa 400 orang. Namun jika salat Ied bisa mencapai 1. 000 jemaah hingga meluber ke halaman masjid, ” katanya.

Makam KH. Imam Puro terletak dalam belakang masjid. Setiap hari, terlebih pada saat menjumpai bulan Ramadan, selalu penuh dikunjungi peziarah. Bukan hanya dari Ponorogo, peziarah pula berasal dari luar kota.

“Namun sejak adanya pandemi Covid-19, tidak banyak peziarah yang hadir. Mungkin hanya warga pada sekitar sini saja, ” pungkasnya. [end/suf]

Share this: