Lebaran Ketupat, Pedagang Janur Keluhkan Sunyi Pembeli
Data

Lebaran Ketupat, Pedagang Janur Keluhkan Sunyi Pembeli

Surabaya (beritajatim. com) – Walaupun sepi pembeli dampak dari Pyshical Distancing akibat Covid-19 di Surabaya, para pedagang ketupat ini masih dengan telaten meronce daun janur menjadi bentuk segi empat serta kantong lepet, di area pasar Wonokromo.

Suasana pembeli memang tak lagi seperti lebaran ketupat tahun sebelumnya, di tarikh 2020 ini masyarakat sudah mulai jarang yang merayakan lebaran ketupan satu minggu setelah lebaran idul fitri.

Bahkan keluhan pedagang pun bukan hanya perkara pembeli melainkan harga janur dengan melambung tinggi membuat masyarakat memilih membeli ketupat matang dibanding dengan masih roncean.

Pada pasar Wonokromo, satu bendel kecil berisikan 10 ketupat dipatok secara harga 30 ribu dengan kehormatan satuannya 4 ribu rupiah. Namun untuk yang besar isi 10 dipatok dengan harga 50 seperseribu rupiah.

“Ya terangkat harganya biasanya 10 bendel gini kalau dulu jual cuma 15 sampai 20 ribu rupiah akan tetapi sekarang bisa sampai 30 seperseribu. Apalagi ada pandemi begini kian sepi jarang yang beli roncean gini milih beli mateng, ”ungkap Rupi’ah salah satu penjual ketupat, Kamis (28/5/2020).

Bahkan ia menceritakan jika di tarikh lalu satu hari bisa melenyapkan 100 ketupat, namun ditahun itu satu hari hanya bisa menjajakan 20 biji ketupan sudah banyak menurutnya. “Mungkin sejak ada covid-19 ini masyarakat memilih membeli ketupat matang ngga buat sendiri bertambah praktis, makanya anjlok sehari hanya laku 20 biji, ” ungkapnya. [way/kun]

Share this: