Lupis Cenil, Jajanan Tradisional Legendaris Indah Menggoda
Data

Lupis Cenil, Jajanan Tradisional Legendaris Indah Menggoda

Mojokerto (beritajatim. com) – Lupis Cenil, jajanan khas Indonesia ini ada di hampir daerah yang ada di Pulau Jawa tak terkecuali di Kabupaten Mojokerto. Meski begitu, tak penuh penjual jajanan tradisional legendaris dengan rasa manis menggoda ini jadi keberadaannya semakin langka.

Rasanya yang unik membuat jajanan pasar yang mulai langka itu banyak diburu karena nikmatnya yang tak kalah dengan jajanan baru. Kue basah yang satu tersebut terbuat dari pati singkong & tepung kanji. Adonannya kemudian diberi pewarna makanan sehingga punya beraneka macam warna yang cantik.

Biasanya memakai warna yang tentu seperi merah, kuning, hijau hingga pink. Bentuknya pun beragam, berangkat dari kotak kecil, bulat tenggat memanjang seperti cendol. Cenil tersaji dengan kelapa parut serta diberi taburan gula pasir. Sehingga rasanya manis. Teksturnya yang kenyal bikin orang ketagihan.

Cenil biasanya dinikmati bersama makanan tradisional lainnya seperti lupis, gatot dan lainnya. Lupis, jajanan pasar dengan dibuat dari beras ketan. Kue itu punya bentuk yang unik, biasanya berbentuk segitiga. Bentuknya didapat dengan cara membungkus adonan beras ketan dengan daun pisang.

Beberapa juga ada yang mewujudkan lupis dengan bentuk bulat memanjang seperti lontong. Sama seperti kue basah lainnya, lupis tersaji secara taburan parutan kelapa. Hanya saja, setelahnya diguyuri saus gula merah. Rasanya jadi manis, gurih, & tentunya kenyal empuk. Dibalik nikmatnya lupis menyimpan filosofi mendalam.

Jumiati (44) berjualan jajanan tradisional di ajaran rumahnya di Dusun Losari, Desa Sidoharjo, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto. [Foto: misti/bj.com]

Filosofi tersebut diambil dari karakter lengket beras ketan yang notabene merupakan bahan dasar lupis. Untuk masyarakat Jawa, tekstur lengket lupis saat matang memiliki makna rasa eratnya persaudaraan. Diharapkan, agar menemui persaudaraan di tengah masyarakat tercipta tulus dan saling peduli satu sama lain.

Sedang gatot terbuat dari singkong yang dijemur hingga kering hingga menjadi gaplek. Gaplek kemudian direndam semalaman, dipotong-potong lalu dikukus dengan gula abang. Tak heran kalau gatot punya warna yang cokelat. Gatot sip dimakan dengan parutan kelapa.

Berbagai macam jajanan tersebut ditata dalam wadah yang kemudian dibaluri dengan kelapa parut yang dikukus dan gula jawa yang dicairkan. Jajanan tradisional yang diyakini sudah ada sejak jaman kala penjajahan Belanda ini, dulunya disajikan dalam wadah yang terbuat sejak daun pisang.

Salah satu penjual cenil yakni Jumiati (44) warga Dusun Losari, Dukuh Sidoharjo, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto. Ia merupakan turunan ketiga dengan meneruskan berjualan jajanan tradisional tersebut. Rumah kontrakan yang strategis melaksanakan ia tak kesulitan memasarkan dagangannya tersebut.

Ibu empat anak ini, meneruskan usaha neneknya, Almarhum Legirah. Meski mengaku gres memulai usahanya sekitar enam bulan lalu, namun karena ia juga memanfaatkan media sosial (medsos), menyusun ia harus membuka warungnya besar kali dalam sehari. Yakni pagi dan malam hari.

“Buka jam 10 pagi sampai habis, habis biasanya jam 12 siang. Jam 4 sore membuat lagi buka jam magrib. Sehari, ketan habis 1 kg, cenil 1, 5 kg, kupang 1 kg, singkong 5 kg. Yang paling banyak dicari, lupis, cenil dan gatot. Tidak hanya orang Mojokerto saja tapi juga orang-orang yang lewat sini, ” ungkapnya, Sabtu (18/7/2020).

Benar jalan depan rumah kontrakan ialah jalur yang menghubungkan Mojokerto secara Lamongan serta Gresik. Sehingga banyak kendaraan yang lewat jalur itu, ini yang membuat jajanan tradisional bikinan Jumiati banyak di cari. Ia juga menerima pesanan servis antar.

“Minimal order 5 bungkus, bisa kirim ke alamat pemesan. Saya jual cenil lupis, donat salju dan rempeyek. Untuk cenil lupis itu ada beberapa jajanan kandungan dalam satu kemasannya, ada gatot, kulpan, ada ketatnya juga. Harganya sesuai pesanan, mulai Rp3 seperseribu sampai Rp5 ribu. Donat salju Rp1 ribu dan rempeyek Rp3 ribu satu bungkusnya, katanya.

Yang unik cara memotong jajanan tersebut. Yakni dengan hubungan yang ditekan hingga menghasilkan potongan. Ini dilakukan lantaran jika menggunakan pisau akan membuat lengket. Dalam sehari, ia mengaku penghasilan suci sampai Rp300 ribu. [tin/but]

Share this: