Mantan Adik Ipar Dilaporkan ke Polda Jatim
Data

Mantan Adik Ipar Dilaporkan ke Polda Jatim

Surabaya (beritajatim. com) – Ovy Noviardhyani melaporkan mantan adik iparnya berinisial UMF ke Unit IV Subdit I Direskrium Polda Jatim. Dalam laporan nomer LPB/482/VI/RES. satu. 11. /2020/UKM/SPKT Polda Jatim tersebut disebutkan jika terlapor yang juga mantan adik ipar pelapor tersebut diduga melakukan penipuan pada keluarganya.

Kuasa hukum pelapor, Pilipus Sandy dalam keterangan persnya menyatakan bahwa perkara ini berasal ketika orang tua pelapor menganjurkan lima sertifikat ke palapor masing-masing SHM nomer 368 luas 309 meter persegi atas nama Warni Hariani (ibu pelapor) di Tempat Sidosermo, Kecamatan Wonocolo, Surabaya. Lalu sertifikat SHM nomer 472 umum 300 meter persegi atas tanda Warni Hariani di Sidosermo selalu.

Yang ketiga adalah sertifikat SHM nomer 4936 merata 223 meter persegi dan SHM nomer 1756 luas 244 meter persegi serta SHM no 2689 luas 323 meter persegi seluruh atas nama Warni Hariani serta lokasi ada di Jatimulyo Lowokwaru Malang.

Pada tahun 2013 Sertifikat dengan SHM no. 368 yang ada di Sidosermo oleh terlapor dijaminkan ke Bank Prima Master sebesar Rp dua. 200. 000. 000. “Dalam pencairan kredit dari bank Prima Menemui, orang tua klien kami tak menerima sepeserpun apalagi bagian keuntungan dari usaha/pekerjaan pelapor. Namun terlapor mengabaikan kewajiban pembayaran ke Bank Prima Master sehingga kredit menjelma macet hingga tiga kali, ” ujar Sandy, Minggu (26/7/2020).

Merasa kalau terlapor tidak memiliki itikad bagus dengan sesuka hati mengabaikan tanggungjawab untuk menyelesaikan pembayaran ke Bank Prima, sehingga akhirnya rumah itu dijual dengan harga dibawah pasar dimana sisa penjualan tersebut pula belum terselesaikan saat ini.

Selanjutnya pada 2017, terlapor juga menjaminkan sertifikat No 472 luas 300 meter persegi ke Bank MNC sebesar Rp dua, 2 miliar. “Namun anehnya oleh Bank MNC kredit tersebut dicairkan, padahal dalam syarat pengajuan sebab debitur jelas diatur jika meresap dalam daftar hitam atau nama macet maka pengajuan kredit dibatalkan, ” ujar Sandy heran.

Sampai saat ini, bagian keluarga juga tidak mengetahui bagaimana nasib kredit di Bank MNC tersebut, sebab disamping sama sekali tidak menerima hasil pencairan nilai, terlapor juga tidak memberikan penjelasan apapun terkait kredit tersebut.

Sandy manambahkan, perbuatan terlapor tidak berhenti sampai disitu pokok pada 21 Mei 2017, tanggungan pelapor menandatangani perjanjian kredit secara Bank Sampoerna dengan jaminan tiga sertifikat SHM 2689, SHM 4936 dan SHM 1757 yanh seluruh tanahnya ada di Jatimulyo, Lowokwaru Malang dengan nilai Rp 4 miliar dan dalam pencairan tersebut keluarga pelapor juga sama sekadar tidak mendapat pencairan kredit tersebut karena terlapor berasalan untuk mengembangkan bisnisnya.

“Namun tiba-tiba pada tanggal 12 Desember 2018 ada pemberitahuan kedua tanpa tersedia pemberitahuan pertama bahwa terlapor tak memenuhi kewajiban kepada Bank Sampoerna sebesar Rp 128 juta kejadian itu lantaran adanya dana menutup sebesar 10 persen dari pencairan kredit, ” katanya.

“Setelah itu, Bank Sampoerna terus mengirimkan surat peringatan bahwa pelapor harus memenuhi tunggakan sebesar Rp42 juta, sampai alhasil muncul aurat peringatan ketiga (tanpa surat peringatan kedua) bahwa terlapor harus menyelesaikan tunggakan kredit sejumlah Rp 4, 1 miliar lebih, ” tambahnya.

& anehnya, lanjut Sandy, tanpa diketahui pihak keluarga pelapor sebagai penanggung kredit sekaligus pemilik sertifikat dengan dijaminkan, namun pihak Bank Sampoerna memindahkan dua dari tiga sertifikat yang dijaminkan ke koperasi simpan pinjam sahabat mitra dan mencatat nama pemilik anggunan menjadi nama terlapor.

“Ini membangun jelas adanya dugaan pemalsuan surat yanh dilakukan terlapor dan serupa melanggar undang-undang perbankan yang dikerjakan Bank Sampoerna, ” tukas Sandy.

Sementara Direktur Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Jatim Pitra Andreas Ratulangi membenarkan pihaknya saat ini sedang menangani perkata tersebut dan sudah memeriksa beberapa saksi. “Iya benar, masih periode penyelidikan. Sudah memeriksa beberapa bukti, untuk terlapor nanti akan kita periksa setelah saksi selesai diperiksa semua, ” ujarnya.

Terpisah Hendra selaku pimpinan Bank Sampoerna wilayah Jawa Timur masa dikonfirmasi menyatakan bahwa pihaknya mau menyampaikan persoalan ini ke bagian manajemen. “Arahan dari manajemen sebaiknya disampaikan secara tertulis, nanti jawatan pusat yang akan menjawab, ” ujarnya. [uci/suf]

Share this: