Data

Naungi 183 Petani Pisang Cavendish, Kaji Sholah Lamongan Kebanjiran Pesanan

Lamongan (beritajatim. com) – Tak bisa dipungkiri, pandemi Covid-19 yang mewabah di Indonesia sejak tahun lalu berdampak pada dekat semua sektor kehidupan dalam tanah air. Selain menimbulkan masalah kesehatan, pandemi Covid-19 juga memiliki dampak dengan nyata pada sektor daya hingga perekonomian nasional.

Mulai dari pengusaha, pekerja hingga buruh kilang, mau tidak mau kudu dipaksa untuk mengalami melorot bangun demi bertahan di kondisi sulit seperti tersebut. Kendati demikian, lain halnya dengan yang dialami sebab seorang petani asal Lamongan, H Sholahuddin, warga Dukuh Banyubang Kecamatan Solokuro Kabupaten Lamongan tersebut mampu berdiam dengan usaha pisang cavendishnya di tengah pandemi itu.

Pria yang akrab disapa Kaji Sholah ini benar sudah lama terjun ke dunia pertanian, mulai dibanding jagung, durian, alpukat tenggat kurma. Namun, bergelut secara tanaman pisang Cavendish tersebut, ia tekuni kurang lebih dua tahun terakhir. Asing biasanya, saat ini cara pisangnya melesat dan berkembang pesat. Hingga memiliki produk pisang cavendish bernama ‘Yasmin’.

Bahkan, Kaji Sholah menuturkan, bahwa saat ini pihaknya mendapatkan seruan atau pesanan pisang cavendish yang cukup tinggi pada tengah usaha di bidang lain yang sedang menjalani penurunan permintaan. “Mulanya saya menanam pisang hanya dibuat untuk menaungi tanaman durian, tapi lambat laun, ternyata pisang bernilai ekonomi dengan cukup tinggi, pasarnya pula luas, akhirnya saya tekuni, ” ujar Kaji Sholah, Sabtu (14/8/2021).

Anugerah ketekunannya dalam mengelola pisang cavendish di tengah pandemi, akhirnya Kaji Sholah menyabet hasil manis dari usahanya. Bahkan, ia juga membawa para petani lain untuk bermitra dan bangkit berhubungan dalam memajukan pertanian biar pandemi.

“Kami saat ini lagi berjuang untuk jihad ekonomi, bagaimana menumbuhkan solusi ekonomi di tengah pandemi seperti ini. Alhamdulillah, apa yang kita gagas dalam waktu 10 bulan, mendapatkan hasil yang luar biasa, ” sambungnya.

Dari fakta yang didapat, saat itu ada sebanyak 183 petani pisang cavendish yang bermitra dengan Kaji Sholah & tergabung dalam PT Wangsa Putra Sejahtera (WPS). “Di belakang kita, banyak mitra-mitra kita yang sudah panen, hari ini yang telah tertanam ada 192 hektar secara keseluruhan, meliputi parak inti milik PT sebesar 58 hektar, dan sisanya adalah plasma (mitra). Sehingga kita bisa bersama memajukan pemasukan ekonomi, ” terangnya.

Lebih tinggi, Kaji Sholah memaparkan, kalau saat ini ia mulai kebanjiran permintaan yang hampir tidak bisa terlayani. Biar pisang cavendish yang diproduksinya kian hari terus menyusun, tetapi justru permintaan pasar juga semakin meningkat, berangkat dari pasar tradisional, rekan grosir, modern market, maka pembeli yang datang langsung ke kebun miliknya.

“Hasil dari pisang yang kami panen sedang diserap pasar lokal, maka masih lingkup Jawa Timuran, sementara permintaan lain lantaran Jogja, Semarang dan Solo kita belum mampu mengcovernya. Permintaan saat ini bertukar antara 12 sampai 15 ton per hari. Namun kapasitas produksi kita tatkala baru sekitar 4 sampai 5 ton perhari. Setiap hari kita mampu kirim 2 sampai 3 mobil pick-up, ” papar Kaji Sholah, di sela-sela aktifitasnya memanen pisang.

Selain itu, Kaji Sholah mengaku, pada tahun 2023 nanti, dirinya menargetkan untuk bisa mewujudkan pengelolaan lahan pisang hingga seluas 1000 hektar. Tentu target tersebut bukan tanpa alasan, menurutnya, hal itu dikarenakan antusias dari para petani buat menanam pisang sangat tinggi, serta adanya peluang pasar yang masih sangat terbuka luas.

“Insya Allah, target tersebut akan segera tercapai, karena begitu antusiasnya saudara-saudara petani kita melihat bagaimana pertumbuhan pisangnya yang sangat bagus, dan dibarengi dengan jaminan rekan. Bagaimanapun, pisang cavendish ini jika ditanam secara massif tanpa ada jaminan pasar dari perusahan maka akan sangat sulit. Jadi, itulah pentingnya ada jaminan pasar, ” jelasnya.

Sehubungan dengan hal tersebut, Kaji Sholah menambahkan, bertugas mengetahui dan menjaga kecermatan tanam, perawatan, kualitas pisang, dan penjualan cavendish saat panen, pihaknya telah mengabulkan pembinaan melalui pendampingan PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) PT WPS. Serta para petani tersebut didampingi oleh awak, mulai dari hulu datang hilir. “Saat waktunya pengetaman, kita proses dari pabrik kita, lalu kita pasarkan sendiri, ” imbuhnya.

Sementara itu, terkait harga pembelian saat panen, Kaji Sholah menjelaskan, bahwa dari satu batang pohon pisang cavendish, rata-rata bisa diperoleh buah pisang seberat 25 sampai 30 kilogram per tandannya. Tetapi bila pemupukannya bagus dan perawatannya ekstra, satu tandannya bisa menghasilkan sekitar 40 kilogram. Untuk harga sebenarnya bervariasi, tergantung kriteria, grade serta kualitasnya.

Kemudian terkait analisa usaha produksi sampai panennya, dalam satu hektare lahan pisang cavendish rata-rata memerlukan biaya Rp 80 datang Rp 90 juta. Secara harga jual buah banana rata-rata sekitar Rp 100-112 ribu per tandan, pada mana satu hektare bisa menghasilkan Rp 250 juta, dengan populasi 2200 baur pohon.

“Kadang ada yang dijual langsung dengan sistem root ataupun langsung borongan tandan, tersedia juga yang masuk pada kemasan box dengan berat bersih 13 kg di tiap boxnya. Harganya pun variatif, tergantung grade dan kualitasnya, ada A, B, dan C, ” katanya.

Terakhir, Studi Sholah berharap, bahwa nantinya pisang cavendishnya juga berpunya melayani permintaan dari baru market dan bahkan asing negeri. “Kita belum menyelundup ke pabrikan, kita mutakhir masuk ke pasar tradisional, karena permintaan dari baru market sangat tinggi, minimal 5 ton sehari. Kita juga ada permintaan sebab Malaysia 100 ton bohlam bulan, ini saja kita tidak bisa melayani. Siap masih bicara pasar lokal, pengembangan ke depan kita harapkan nanti bisa ekspor ke pasar negara tetangga, ” harapnya. [riq/but]

Share this: